Barru, zona-pantau.com — Di tengah arus modernisasi, penggunaan bahasa Bugis klasik mulai jarang terdengar dalam ruang komunikasi masyarakat.
Keprihatinan tersebut menjadi perhatian serius SI Public Speaking Barru.
Tidak hanya memberikan ruang pelatihan public speaking kepada masyarakat, SI Public Speaking Barru juga mengajak para pelaku komunikasi publik untuk mengambil peran dalam menjaga dan menghidupkan kembali kekayaan bahasa serta tradisi tutur masyarakat Bugis.
Ajakan itu mengemuka dalam sharing session bertema “Merawat Akar, Menjaga Tutur: Membumikan Bahasa Daerah Bugis melalui Public Speaking” yang digelar di Lantai 2 Hotel D Shining Barru, Rabu (14/10/2026) malam, pukul 20.00 WITA.
Kegiatan ini menghadirkan Ustadz Ahmad Jafar, Pengurus Muara Bone (Komunitas Pabbicara Bone), sebagai narasumber.
Peserta yang hadir berasal dari berbagai latar belakang profesi, mulai dari guru, wiraswasta, perangkat desa, sekretaris desa, mahasiswa, muballig/da’i, pembawa acara (MC), kepala dusun, hingga profesi lainnya.
Kegiatan diawali dengan sekapur sirih dari Founder SI Public Speaking Barru, Ilham,S.Pd.C.PS Ia menegaskan bahwa bahasa Bugis bukan sekadar alat komunikasi, melainkan warisan budaya yang mengandung nilai-nilai luhur.
“Masyarakat Bugis dalam tuturnya menjunjung nilai siri, sehingga setiap tuturnya memiliki bahasa kiasan yang memiliki makna yang tidak terbahasakan secara vulgar. Di dalamnya terdapat nilai-nilai luhur, etika, dan adat yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Bugis,” ujar Ilham.
Menurutnya, upaya pelestarian bahasa daerah membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, terutama mereka yang memiliki ruang untuk bertutur di hadapan publik.
Para public speaker seperti MC, pabbicara mappettu ada, penceramah, dan pendidik memiliki peran strategis.
“Para public speaker tidak hanya memiliki tugas menyampaikan pesan kepada audiens. Mereka juga memiliki kesempatan untuk menjaga agar bahasa Bugis klasik tetap hidup, digunakan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” lanjutnya.
Public Speaker Sebagai Penjaga Tradisi Tutur
Salah satu fokus utama kegiatan ini adalah mendorong pelaku komunikasi publik agar lebih peduli terhadap penggunaan bahasa Bugis klasik.
Dalam kegiatan adat, bahasa Bugis tidak hanya berfungsi menyampaikan maksud, tetapi juga mencerminkan penghormatan, tata krama, dan pemahaman terhadap adat.
Ia mencontohkan salah satu ungkapan penghormatan dalam penyambutan tamu.
“Naikia sining to engkae papole deceng, deceng enreki ribola tejjaling te’ tappere. Banna mase mase, kipajungiku lellu pangadereng, ripaleteki ritaluttu mappakalebbi, tuppu risapana, majjulekka ri’appang appang sappuru coccoreng makkatenni ripadongko, ripatudang ritappere maruddanie.”
Ungkapan tersebut mencerminkan bentuk penghormatan mendalam kepada tamu yang tidak ditemukan padanannya dalam bahasa sehari-hari.
Menurut Ilham, keterampilan public speaking tidak cukup hanya berorientasi pada keberanian tampil dan kelancaran berbicara. Kesadaran terhadap bahasa, etika, dan adat juga menjadi bagian penting.
Kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Ustadz Ahmad Jafar, dilanjutkan diskusi dan tanya jawab.
Peserta antusias bertukar pandangan mengenai penggunaan bahasa Bugis dalam komunikasi publik.
Diskusi ditutup dengan harapan agar kegiatan penguatan budaya dan adat Bugis terus berlanjut dan dapat berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Barru melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, agar dapat menjangkau lebih luas para pelaku adat dan budaya di Barru. (Aiq)


















