banner 728x250

Taruna Ikrar Berikan Kuliah Umum di Unpar

banner 120x600
banner 468x60

Bandung, zona-pantau.com — Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. Dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., mengajak perguruan tinggi Indonesia melakukan lompatan besar.

Dalam pengembangan sumber daya manusia melalui penguasaan teknologi, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), dan kepemimpinan berbasis neurosains (Neuroscience Leadership).

banner 325x300

Pesan tersebut disampaikan Taruna Ikrar saat memberikan kuliah umum di Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Bandung, di hadapan ratusan peserta yang terdiri atas guru besar, dosen, dan mahasiswa yang memadati auditorium kampus.

Dalam paparannya, Taruna menegaskan bahwa era keterbukaan informasi telah mengubah wajah pendidikan tinggi. Kehadiran AI membuka akses pengetahuan yang sebelumnya membutuhkan waktu, biaya, dan sumber daya besar.

“Hari ini tidak ada lagi alasan bagi dosen maupun mahasiswa untuk berhenti meng-upgrade diri. Kita hidup di era keterbukaan informasi,” katanya.

“Dengan kecerdasan buatan, dunia seolah berada dalam genggaman. Persoalannya bukan lagi sulitnya mendapatkan ilmu, melainkan seberapa besar kemauan kita untuk belajar, berubah, dan meningkatkan kemampuan,” tegas Taruna.

Menurutnya, perguruan tinggi tidak boleh sekadar menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi harus menjadi pusat lahirnya inovator, pemimpin, dan generasi unggul yang mampu bersaing pada tingkat internasional.

Taruna menjelaskan bahwa salah satu pendekatan penting dalam pengembangan kualitas manusia adalah Neuroscience Leadership.

Yakni pendekatan kepemimpinan yang memanfaatkan pemahaman tentang cara kerja otak dalam proses berpikir, belajar, mengelola emosi, dan mengambil keputusan.

Melalui pemahaman neurosains yang dipadukan dengan asesmen pendidikan serta pengembangan diri, mahasiswa dapat lebih terarah mengenali potensi, minat, dan bakatnya.

Sementara itu, dosen dapat mengembangkan metode pembelajaran yang lebih adaptif, kreatif, dan efektif.

“Setiap manusia memiliki potensi yang dapat dikembangkan. Tantangan pendidikan adalah bagaimana membantu seseorang mengenali kekuatannya, menemukan bidang yang sesuai dengan minat dan bakatnya, kemudian mengembangkannya menjadi kompetensi unggul yang mampu bersaing secara global,” jelasnya.

Ia menambahkan, pemanfaatan AI harus berjalan seiring dengan penguatan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, etika, serta karakter kepemimpinan.

Dengan demikian, transformasi pendidikan tinggi tidak hanya menghasilkan lulusan yang menguasai teknologi, tetapi juga manusia yang mampu menciptakan solusi bagi persoalan masyarakat.

Taruna berharap Universitas Katolik Parahyangan terus memperkuat kualitas riset, inovasi, kolaborasi internasional, dan pengembangan sumber daya manusia untuk mewujudkan cita-cita sebagai World Class University.

“Universitas kelas dunia bukan hanya ditentukan oleh gedung megah atau banyaknya gelar akademik, tetapi oleh kualitas pemikiran, kekuatan inovasi, hasil penelitian, dan kontribusi nyata yang mampu memberikan dampak bagi masyarakat dunia,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Taruna Ikrar juga memperkenalkan pentingnya konsep kolaborasi ABG (Academia, Business, Government) sebagai fondasi pembangunan nasional berbasis ilmu pengetahuan dan inovasi.

Menurutnya, akademisi memiliki kekuatan dalam penelitian dan pengembangan ilmu, dunia usaha berperan dalam hilirisasi inovasi.

Sedangkan pemerintah menciptakan kebijakan dan ekosistem yang mendukung kemajuan bersama.

Sinergi ketiga unsur tersebut dinilai penting untuk memperkuat daya saing Indonesia sekaligus mendukung program prioritas nasional.

Salah satu contoh konkret yang disampaikan adalah dukungan BPOM terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang menjadi salah satu prioritas pemerintahan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto.

Taruna menjelaskan bahwa BPOM terus memperkuat sinergi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) dalam memastikan makanan yang disajikan kepada penerima manfaat memenuhi persyaratan keamanan dan mutu pangan.

Kerja sama tersebut mencakup penguatan pengawasan, pengujian pangan, pembinaan keamanan pangan, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia yang terlibat dalam pelaksanaan MBG.

“Program Makan Bergizi Gratis bukan sekadar menyediakan makanan, tetapi memastikan makanan tersebut aman, bermutu, dan bergizi. Prinsip BPOM sangat jelas: bukan pangan jika tidak aman,” tegas Taruna.

Ia menekankan bahwa pemenuhan gizi harus didukung sistem keamanan pangan yang kuat, mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi kepada penerima manfaat.

Melalui pendekatan ABG, Taruna juga mengajak perguruan tinggi berkontribusi melalui penelitian keamanan pangan, inovasi teknologi pengawasan, edukasi gizi, dan pengembangan sistem pengendalian risiko berbasis sains.

Menurutnya, kolaborasi antara kampus, pemerintah, dan dunia usaha akan menjadi kekuatan penting dalam mewujudkan sumber daya manusia Indonesia yang sehat, cerdas, produktif, dan berdaya saing global menuju Indonesia Emas 2045.

Kuliah umum tersebut menjadi momentum untuk memperkuat hubungan antara dunia akademik dan regulator.

Sekaligus memperluas wawasan civitas akademika mengenai transformasi kepemimpinan, kemajuan teknologi, serta tantangan pembangunan nasional.

Dalam kunjungannya ke Universitas Katolik Parahyangan, Kepala BPOM RI Taruna Ikrar turut didampingi jajaran pejabat eselon I, II, dan III di lingkungan BPOM.

“Masa depan bangsa tidak cukup dibangun oleh orang-orang yang memiliki pengetahuan. Kita membutuhkan manusia yang terus belajar, berani berinovasi, mampu berkolaborasi, dan siap menghadapi perubahan. Jika ingin menjadi pemain dunia, kita harus mulai membangun kualitas kelas dunia dari diri kita sendiri,” pungkas Taruna. (Rd.P)

\ Get the latest news /

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top