Barru, zona-pantau.com — Pemerintah Desa (Pemdes) Manuba, Kecamatan Mallusetasi, Kabupaten Barru, menggelar musyawarah Mappalili sebagai bagian dari persiapan memasuki musim tanam dan dimulainya turun sawah, Selasa, 22 September 2026.
Musyawarah tersebut menjadi wadah bagi pemerintah desa, petani, penyuluh pertanian, serta berbagai unsur terkait untuk menyatukan persepsi dan menyepakati jadwal pelaksanaan musim tanam di wilayah Desa Manuba.
Dalam hasil musyawarah, disepakati bahwa Musim Tanam (MT) I dimulai pada Senin, 19 Oktober 2026, sedangkan jadwal tabel/tabelisasi pertanaman ditetapkan pada 18 November 2026.
Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Desa Manuba Hasnah Sultan bersama perangkat desa, Babinsa Desa Manuba, Bhabinkamtibmas Desa Manuba, perwakilan Kecamatan Mallusetasi.
Kepala BPP Mallusetasi Burhan, S.ST, PPL Abdul Razak, S.Tr.P, PPL Desa Manuba, POPT Kecamatan Mallusetasi Muhammad Sadar, S.ST., M.P, para kepala dusun se-Desa Manuba, RT, Ketua BPD Desa Manuba.
Ketua KTNA Mallusetasi, perwakilan kelompok tani, perwakilan KWT, petugas pengairan, serta tokoh agama dan tokoh masyarakat.
Dalam sambutannya, Kepala Desa Manuba Hasnah Sultan mengatakan bahwa musyawarah Mappalili merupakan kegiatan tahunan yang dilaksanakan masyarakat sebelum memasuki masa turun sawah.
Ia berharap seluruh hasil kesepakatan yang telah dicapai dalam musyawarah tersebut dapat diterapkan bersama di lapangan oleh para petani.
“Mappalili ini merupakan kegiatan tahunan setiap akan memulai turun sawah. Apa yang sudah menjadi kesepakatan bersama dalam kegiatan ini, saya berharap dapat diterapkan oleh para petani di lapangan sehingga nantinya hasil pertanian bisa maksimal,” ujarnya.
Sementara itu, POPT Kecamatan Mallusetasi Muhammad Sadar, S.ST., M.P menekankan pentingnya keseragaman langkah dan persepsi di kalangan petani setelah jadwal musim tanam disepakati.
Menurutnya, keseragaman waktu tanam dan penerapan langkah-langkah teknis yang telah disepakati menjadi salah satu upaya untuk mengantisipasi serangan organisme pengganggu tanaman maupun dampak kekeringan.
Ia berharap seluruh petani dapat mengikuti kesepakatan yang telah dihasilkan melalui musyawarah sehingga upaya peningkatan produktivitas pertanian dapat dilakukan secara bersama-sama.
“Musyawarah Mappalili ini penting agar semua petani memiliki satu persepsi dan tidak melenceng dari apa yang sudah disepakati. Dengan keseragaman tersebut, kita dapat melakukan langkah antisipasi terhadap serangan hama maupun dampak kekeringan sehingga hasil pertanian nantinya bisa maksimal,” jelasnya.
Ia juga menyampaikan bahwa sektor pertanian menjadi salah satu program prioritas pemerintah dalam mendukung swasembada pangan nasional, sehingga diperlukan keterlibatan seluruh pihak, khususnya petani, penyuluh dan pemerintah di tingkat desa.
Musyawarah Mappalili Desa Manuba berlangsung tertib dan dinamis. Perbedaan pendapat yang sempat muncul dalam pembahasan dinilai sebagai bagian dari proses musyawarah untuk mencapai kesepakatan yang dapat diterima bersama.
Dengan telah ditetapkannya jadwal turun sawah MT I, diharapkan seluruh petani di Desa Manuba dapat mempersiapkan lahan dan sarana produksi secara lebih matang, sehingga pelaksanaan musim tanam dapat berjalan serentak, terarah dan mendukung peningkatan produksi pangan di wilayah tersebut. (Aiq)


















