Bisa jelas perasaan anak jadi pengetahuan signifikan yang mesti dimiliki orang tua. Coba validasi perasaan anak bersama dengan 6 teknik ini!

Tiap-tiap anak terlahir bersama sifat, pikiran dan perasaannya masing-masing. Mau tersebut lebih sensitif, periang, atau cenderung gampang marah. Ini wajib dihargai, sebab itulah yang membawa dampak tiap tiap anak unik. Kadang, kemungkinan kami gagal menangkap frekuwensi perasaan anak, jadinya emosi anak nggak tersalurkan bersama tepat.

orang tua dituntut untuk miliki keterampilan mengelola emosi negatif anak, sehingga ia miliki kecerdasan emosi. Ini adalah unsur signifikan di dalam diri seorang anak yang mampu mengantarkannya jadi pribadi yang utuh. Tidak benar satu caranya yaitu bersama Teknik validasi perasaan atau validasi emosi. Mampu dibilang, ini adalah tidak benar satu kendaraan untuk sanggup mencapai kecerdasan emosi itu.

Terhadap suatu kulwap (Kuliah whatsapp) yang saya ikuti sebagian selagi lalu mengenai validasi emosi, sang pembicara, Mbak Ellen Kristi, Pendiri Komunitas Charlotte Mason Indonesia, sekaligus penulis buku Cinta yang Berpikir (Suatu Manual Pendidikan Pembawaan Charlotte Mason), membagikan tipsnya untuk memvalidasi perasaan anak, sebagai berikut.

Validasi Perasaan Anak bersama Jadi Pendengar yang Tulus

Sebagai termin awal, siapkan diri mommies untuk jadi pendengar yang tulus. Tinggalkan sejenak kesibukan, terhitung nggak melongok-longok ponsel selagi mendengar anak berbicara. Simak seluruh aktualisasi diri anak, baik verbal maupun nonverbal. Bersama dengan memperhatikan, kami menjadi sanggup mengidentifikasi pikiran dan perasaan anak di balik segala gejala aktualisasi diri yang ia menyatakan.

Jangan Sangkal Perasaan Anak

Hindari menyangkal apapun yang anak coba sampaikan, meskipun bagi kami tersebut bukan masuk akal. Ingatlah bahwa perasaan tiap tiap orang selalu valid bagi orang yang merasakannya. Apa, sih, bedanya menyangkal dan terima perasaan anak? Mbak Ellen beri tambahan suatu contoh ilustrasi berikut:

Seorang anak menemukan kura-kuranya mati, dan ia mengadu terhadap ibunya sambil mengangis. Tersedia dua contoh respon yang ditunjukkan berasal dari sang ibu:

  • Respon 1: “Udahlah, Nak, nggak kudu nangis dan upset banget gitu. Tersebut kan cuma kura-kura. Ntar mama beliin yang baru! Telah, berhenti nangisnya.”
  • Respon 2: “Wah, ngagetin banget, ya Nak? (Sambil peluk anak). Tentu anda suka bermain-main serupa kura-kuramu tiap-tiap hari ya? Anda sayang mirip kura-kuramu ya..?”
  • Sanggup dibayangkan, kecuali kami gunakan respon pertama yaitu menyangkal perasaan anak, ia bakal tambah berang, emosinya semakin meluap. Sebaliknya, terkecuali kami gunakan respon kedua, yaitu Terima perasaan anak, ia akan merasa dipahami dan dimaklumi perasaannya. Anak akan lebih cepat menangani emosi negatifnya.

    Gunakan Kalimat Pertanyaan, Jangan Ceramah

    Anak yang tengah emosional bukan sanggup mencerna argumen bersama dengan baik, gara-gara otak rasionalnya tengah ditutupi otak emosional. Tanya anak bersama dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat otak rasionalnya bekerja. Tetapi, hindari pertanyaan yang amat rumit untuk dijawab anak, layaknya “Mengapa?” Ajukan pertanyaan yang dapat dijawab “Ya” atau “Bukan” oleh anak.

    Contoh, anak mommies menangis dikarenakan disuruh tidur siang waktu ia ulang asik main, mommies sanggup mengajukan serangkaian pertanyaan secara kronologis, layaknya berikut:

  • Anda tengah asik main ya?
  • Lalu, mama suruh anda tidur siang, padahal anda nggak puas tidur siang ya?
  • Ketika otak rasionalnya bekerja, ia akan bisa merespon. Bersama instrumen pertanyaan itu, mommies dapat bantu anak untuk sadar penyebab emosi negatifnya.

    Beri Label Emosi

    Sehabis kronologinya mengetahui, bantu anak memberi julukan terhadap emosi negatif yang ia rasakan, dan juga mengenali sensasi dan impuls yang menyertainya.

  • Anda menjadi kesal dikarenakan mama suruh tidur siang?
  • Anda marah diminta berhenti main ya?
  • Lalu rasanya menginginkan menangis ya?
  • Dan seterusnya
  • Kalau dikerjakan bersama dengan tepat, biasanya terhadap pertanyaan ketiga atau keempat, emosi negatif anak akan mulai mereda.

    Memperlihatkan Ikut merasakan Kepada Anak

    Akhirnya, menyatakan ikut merasakan terhadap emosi yang tengah anak rasakan. Misalnya: “Iya ya, kecuali tengah asik main disuruh berhenti tentu kesal. Mama sanggup memahami tersebut. Mama pun jika ulang fokus bekerja konsisten disuruh berhenti, mama bakal kesal.”

    mengetahui perasaan anak tidak penting mengubah peraturan jadi disesuaikan keinginan anak. Sebaliknya, anak dilatih untuk memahami bahwa tersedia ketentuan yang harus dia melakukan walau dia nggak senang. Mommies mampu sampaikan terhadap anak: “Mama juga bahagia memirsa anda bermain, namun tidur siang tersebut perlu, dikarenakan tersebut baik buat tubuhmu.” Jika otak rasionalnya aktif, seharusnya terhadap termin ini, anak bukan menangis ulang.

    Dorong Anak Untuk Membawa dampak Ketetapan Tepat

    Terhadap kelanjutannya, yang kami harapkan adalah anak sanggup merespon empiris meski nggak disesuaikan bersama dengan keinginannya. Kami menghendaki anak dapat bersama penuh pencerahan melaksanakan kewajibannya tanpa terpaksa. Untuk tersebut, Berikan dorongan sehingga ia dapat mengerjakannya bersama gembira. Misalnya bersama memberi tawaran bisa saja: “Anda idamkan tidur bersama lampu dinyalakan atau dimatikan?” atau “Anda mau mama selimutin atau nggak usah?”

    Teknik validasi perasaan tentunya sanggup diutak-atik disesuaikan bersama kepribadian dan usia anak. Terhadap anak remaja, pasti lebih membutuhkan pertanyaan-pertanyaan reflektif yang lebih kompleks dibanding anak balita. Validasi emosi punyai tujuan mendukung anak menenangkan otak emosionalnya sehingga otak rasionalnya dapat menimbang empiris apa adanya dan anak mampu mengendalikan dirinya sendiri.

    Buat mommies yang belum menerapkan teknik validasi perasaan terhadap anak, belum terlambat untuk memulainya sekarang. Semangat, mommies!

    8 Hal yang Wajib Diingat Ayah &Amp;Amp; Ibu Selagi Membesarkan Anak

    7 Hal Mesti untuk Ortu Sehingga Anak Dapat Kelola Marah bersama dengan Baik

    10 Tips Scream Free Parenting yang Kudu Kamu Mengerti

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *