Ketika brand-brand beauty di global berlomba-lomba menghasilkan konten berkualitas di ruang digital, LUSH justru meninggalkan medsos. Apa alasan di baliknya dan apakah relevan diikuti pemain industri kecantikan Indonesia?

Lebih dari satu tahunan ke belakang, hampir seluruh corporate di segudang sektor berlomba-lomba menguatkan Digital presence-nya di beragam Sistem media sosial, LUSH Brand Asal Inggris bersama dengan lini kosmetik yang Handmade, Vegan, dan juga Cruelty free Justru malah mengumumkan akan bukan aktif kembali di Instagram, Tiktok, Facebook, Snapchat, dan Whatsapp di 48 negara daerah mereka beroperasi.

Gerakan bertajuk Anti-Social Media Policy yang dimulai November 2021 ini tidak merupakan kali pertama LUSH secara berkesadaran memutuskan untuk bukan mengenakan media sosial sebagai kanal promosi, edukasi, juga mempertahankan rekanan bersama pelanggan-pelanggannya. Terhadap 2019, LUSH juga sempat lakukan hal mirip, tapi terpaksa lagi ke media sosial ketika pandemi menyebabkan semua transaksi hanyalah sanggup dikerjakan secara daring.

Alasan di balik ketentuan ini, mengutip Chief Digital Officer LUSH Jack Constantine adalah sebab pemanfaatan media sosial berkebalikan bersama esensi berasal dari product-product berasal dari LUSH sendiri. “Sebagai penemu Bath bomb, Kita di LUSH udah mengerahkan tenaga untuk membawa dampak product yang menopang orang untuk rileks dan mencermati kesejahteraan mereka. Media sosial sudah jadi antitesis berasal dari niat ini, bersama dengan algoritma yang didesain untuk sebabkan orang Scrolling Tanpa henti dan menghalangi mereka untuk sahih-sahih rileks,” kata Jack.

Relevansi Beauty Brands Tanpa Media Sosial

Per selagi penulisan artikel ini, Instagram LUSH cuman memuat 9 postingan yang merupakan potongan-potongan berasal dari satu kesatuan grafis yang bertuliskan “Be Somewhere Else” bersama Caption Yang menyarankan pengunjung akun medsosnya untuk kurangi Scrolling Dan hadir penuh di dalam kehidupan konkret.

kita mau Engage Bersama dengan kalian di area-area yang memang mempedulikan kalian dan kesejahteraan mental kalian,” begitu secuil potongan Caption Yang mendampingi sembilan postingan di Instagram Lush.

Meski bukan mengunggah apa-apa di Instagram, Tiktok, Facebook, Snapchat, dan Whatsapp, LUSH terus mengenakan Twitter untuk sistem pelayanan pelanggan. Mereka juga masih memproduksi Newsletter Untuk didistribusikan lewat email, kenakan Pinterest untuk konten-konten inspirasional, dan juga menumbuhkan kehadiran mereka di Youtube. LUSH juga berencana untuk lebih kerap mengadakan Event-Event Luring, melaksanakan Community activation, Dan menyebarkan katalog fisik layaknya yang berlimpah dilaksanakan lebih dari satu belas year lalu.

Apakah LUSH yang pertama dan satu-satunya?

Relevansi Beauty Brands Tanpa Media Sosial

Doc: www.bottegaveneta.com

Gerakan LUSH meninggalkan kanal media sosial mereka di jaman digital bukanlah gerakan yang sahih-sahih asli. Sebagian Luxury brand Juga dulu melaksanakan hal sama, layaknya Bottega Veneta yang mengejutkan industri Fashion bersama dengan menghapus media sosial mereka secara tiba-tiba di Januari 2021 sebelum merilis majalah digital per Kuartal Yang bernama Issue terhadap bulan April di th yang serupa.

Meski telah bukan kenakan media sosial untuk mengakses bersama pelanggan dan juga Fanbase-Nya, Bottega Venetta terus mempertahankan kehadiran mereka didalam jaringan sosial lewat kerjasama bersama ambasador dan juga Pengagum Mereka, bersama asa mereka-mereka inilah yang akan menjadi perpanjangan tangan Bottega Venetta untuk mempromosikan Brand-Nya berasal dari mulut ke mulut.

Taktik yang sama juga dilajukan Balenciaga terhadap tahunan 2021, tepatnya di bulan Juni. Balenciaga menghapus Grid Instagram mereka hingga sahih-sahih bukan tersedia unggahan mirip sekali, dan semenjak tersebut tetap melakukannya secara periodik.

Apakah relevan terkecuali taktik ini diterapkan Brand Lokal?

Relevansi Beauty Brands Tanpa Media Sosial

Tersedia persamaan berasal dari ketiga Brand Yang memutuskan untuk rehat berasal dari media sosial di atas: ketiganya serupa-mirip udah miliki Fanbase Yang loyal. Tak hanya tersebut, ketiganya udah punya berlimpah Flagship store Di beragam belahan global, supaya meski tanpa media sosial, pelanggan konsisten bisa membeli product-product mereka secara segera di toko fisik mereka.

Menyaksikan berasal dari knowledge, mayoritas sumber penjualan product LUSH pun bukan didominasi oleh pembelian melalui media sosial. Mengutip berasal dari VOGUE Business, transaksi segera berasal dari media sosial, bukan terhitung pembeli yang memirsa product LUSH berasal dari media sosial tetapi membelinya berasal dari Point of sales Lain, termasuk cuman sebesar 0,5Persen berasal dari keseluruhan penjualan mereka.

Berasal dari knowledge itu, aturan LUSH untuk bukan aktif di media sosial udah terkalkulasi. Kurangi porsi prioritas ke kanal yang bukan terlampau berlimpah mendatangkan transaksi, didalam hal ini media sosial Lush, jadi pertimbangan usaha yang terlampau masuk akal.

Baik LUSH maupun Bottega Venetta pun bukan sahih-sahih menghilang berasal dari media sosial dan beraneka Sistem daring. Keduanya konsisten mengatur kerjasama-kerjasama untuk memantik perbincangan berkenaan Brand Mereka di ruang digital. LUSH apalagi lebih aktif mengunggah video Youtube dibandingkan sebelum gerakan Anti-Social Media ini. Team LUSH pun konsisten memantau pesan-pesan yang masuk di media sosial, layaknya kata Jack Constantine terhadap VOGUE Business, “Kita akan memonitor sistem-sistem [Media sosial] itu lebih berasal dari sebelumnya. Hal paling akhir yang menghendaki kita melakukan adalah mengabaikan masukan berasal dari pelanggan.”

Relevansi Beauty Brands Tanpa Media Sosial

Bisa dikatakan, alasan LUSH untuk meninggalkan lima Sistem media sosial yang lumayan tak terhitung digunakan orang merupakan kebijakan yang strategis kalau saksikan berasal dari information penjualan mereka, dan juga amat antagonis bersama DNA Brand Mereka.

Agar, terkecuali Brand Lokal dambakan mengikuti jejak LUSH bersama dengan menghilang berasal dari global media sosial, wajib sahih-sahih mempertimbangkan berlimpah hal. Memilih untuk jadi beda pasti bisa mendatangkan sorotan yang lebih tak terhitung dibanding biasanya, tetapi jangan hingga peraturan tersebut bukan berdasar terhadap alasan yang kuat dan bukan didukung oleh taktik-taktik pengganti. Bagaimanapun, di belahan mana pun di global, pelanggan industri apapun punyai satu kecenderungan: mereka menghargai kejujuran. Terkecuali taktik ini ditunaikan berangkat berasal dari keinginan untuk ikut-ikutan atau demi viral belaka, hati-hati menghilangkan satu hal yang paling berharga berasal dari konsumen, yaitu kepercayaan mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *