Belakangan, mendengar betapa maraknya pelecehan sampai pemerkosaan terutama pada ‘Anak perempuan’ rasanya bikin saya menginginkan marah, tetapi nggak memahami mau marah mirip siapa. Mommies begitu juga nggak, sih? Siapa yang mesti bertanggung jawab sebenarnya soal kasus yang bikin hati nggak karu-karuan ini? Kepikiran, nih, anak-anak kami gimana? Oke, sekarang bagaimana jikalau kami Ajarkan anak soal Sexual consent. Meski kami nggak mengerti apa yang akan ia hadapi nantinya, tapi, ia juga wajib menyadari peraturan soal Sexual consent, sehingga paling bukan anak sanggup secara lugas berkata, ya, atau bukan pada suatu konduite seksual.

Sentuhan main-main yang tidak buat mainan

Begitu si remaja masuk sekolah menengah, bakal tersedia permainan baru terhitung Touch game alias sentuh lebih dari satu bagian tubuh yang sensitif. Sebut saja tepuk bokong, mencubit puting teman sampai sakit, atau memukul alat kelamin (Nih kebanyakan anak laki-laki yang puas main beginian, bener nggak?). Buat sebagian orang ini sentuhan ini cuma main-main, padahal ini tidak buat mainan. Tak terhitung orang yang merasa nggak nyaman bila disentuh atau bagian tubuhnya dijadikan mainan. Terutama ketika hal itu dilaksanakan versus style.

Sebagai orangtua berasal dari anak laki-laki, mommies kemungkinan harus mengajak mereka berbicara bahwa ini bukanlah hal yang dibenarkan, meski atas julukan becanda atau main-main. Baik anak laki-laki maupun anak perempuan harus diajarkan bahwa sentuhan main-main ini nggak harus dijalankan. Kalau tersedia teman yang konsisten melakukannya, terlalu boleh ditolak, bila kudu laporkan ke guru atau orangtua. Sentuhan main-main ini terlampau bisa saja dikategorikan sebagai pelecehan seksual.

Bangun harga diri si remaja

Menurut Penelitian, harga diri anak mulai menurun kira-kira usia 13 year. Waktu dilaporkan di usia 17, sebanyak 78Persen anak perempuan mengatakan kecuali mereka nggak bahagia serupa bentuk tubuh mereka. Menjadi mommies, anak remaja juga butuh dipuji layaknya ketika mereka masih kecil, hargai dan puji anak remaja berkenaan talenta atau skill, keterampilan, kebaikan, sesekali penampilan mereka juga boleh. Beri mereka kesempatan untuk menyatakan keistimewaan mereka sekecil apapun. Anak remaja bersama kepercayaan diri yang tinggi, cenderung untuk berani mengatakan bukan bila tersedia sesuatu yang ia bukan berkenan. Terhitung jikalau berjalan pelecehan atau pemaksaan pada dirinya.

Lanjutkan pembicaraan soal seks

Di level ini, ketika membicarakan soal seks, selipkan berita perihal sexual consent Alias persetujuan akan konduite seksual. Kami seringkali terjebak untuk hanyalah membicarakan bahwa seks sebaiknya dilaksanakan sesudah menikah, sehabis usia mereka memadai, praktik seks yang kondusif, atau konsekuensi ketika melaksanakan seks bebas. Sayangnya info seputar Sexual consent kerap terlupakan. Bahkan, nih, umur-umur segini, mereka pun telah kepikiran pacaran. Terlampau kemungkinan telah berpikir tentang sentuhan seksual layaknya ciuman, atau sekadar bergandengan tangan. Baik anak laki-laki dan anak perempuan kudu tegas menyampaikan kecuali ia setuju atau bukan setuju pas mendambakan dicium, misalnya. Ya vital ya, dan bukan vital bukan. Siapapun ketika teman dekat atau pacarnya mengatakan bukan, ia wajib berhenti.

Perubahan hormon adalah bagian berasal dari bertumbuh

Mommies dapat bantu jelaskan terhadap si remaja, jika perubahan hormon adalah bagian berasal dari proses ia bertumbuh. So, akan benar-benar wajar kecuali terhadap proses itu ia sulit berpikir jernih, marah, bingung, atau sedih. Adalah hal yang wajar jika ia merasa kewalahan bersama perasaannya itu. Ngobrol di pas santai, kecuali mereka amat boleh untuk membicarakan perasaan-perasaan tersebut terhadap Kamu orangtuanya. Minta mereka untuk konsisten Aware bahwa perasaan, keinginan, dan keperluan mereka bukanlah tanggung jawab siapa pun, melainkan tanggung jawab mereka sendiri. Mereka masih mesti mempraktikkan kebaikan dan rasa hormat kepada seluruh orang di kurang lebih mereka.

Maskulinitas yang sehat

Yang ini spesifik untuk anak laki-laki. Mereka kudu diajarkan mulai berasal dari sekolah menengah apa tersebut maskulinitas yang sehat. Bahwa maskulinitas tersebut memang baik dan berarti, namun jadi lelaki sejati tidak signifikan dia bukan sanggup menyatakan emosi sedih, menangis, atau membutuhkan pemberian orang lain. Bahwa menangis tersebut tidak cuma penguasaan perempuan, laki-laki pun boleh menangis. Maskulinitas tidak artinya sekadar gagah-gagahan, terlihat andal, dan paling kuat. Namun maskulinitas yang sehat adalah yang menghargai, menghormati, dan menunjang orang lain. Bahwa yang lemah telah sepatutnya dilindungi, tidak di-bully. Apa pun gendernya.

Photo by DrahomÍR Posteby-Mach on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *