Relawan PENTRI Dan LPPLH-RI Apresiasi Sesepuh Jatisampurna Dalam Pelestarian Tradisi Babaritan

 Berita Terkini
banner 468x60

BEKASI (Budaya) – tradisi yang secara turun temurun merupakan kearifan lokal yang sudah melekat pada masyarakat disuatu wilayah, seperti yang dilakukan warga Karanggan Kecamatan Jatisampurna, Kota Bekasi. Masyarakat khususnya warga karanggan memiliki tradisi Babarit/babaritan yang dilaksanakan tiap tahunnya pada bulan Apit tahun saka atau bulan Dzul-Qa’idah tahun Hijriyah.

Ada beberapa lokasi yang dijadikan sebagai tempat kegiatan babaritan ini, diantaranya Makom Selamiring petilasan Prabu Siliwangi, Makam Hulu Cai, Rumah Budaya maupun ditempat sesepuh adat, dan lainnya.

Dari kiri: Abah Enjong, Ketua LPPLH-RI Bekasi Achyar Bachtiar, Amir Mahmud, dan Relawan PEN-TRI

Tradisi babaritan ini dilakukan warga karanggan bekasi ini tiap tahunnya memberikan sajian berupa aneka makanan terutama daging qurban kambing atau kerbau kepada para pengunjung yang mengikuti atau datang ke acara babarit tersebut. Tradisi budaya babaritan zaman terdahulu di Karanggan ini dilakukan dalam bentuk ungkapan syukur kepada sang pencipta alam semesta yang telah memberikan kemakmuran hasil bumi yang melimpah.

“Kegiatan budaya tradisi babaritan ini selama beberapa generasi masih tetap terjaga hingga saat ini terutama oleh warga masyarakat Karanggan Kecamatan Jatisampurna, Kota Bekasi ini. Dan jangan salah persepsi, bahwa tradisi ini bukan kegiatan keagamaan, akan tetapi bersifat melestarikan tradisi budaya orangtua disini, supaya kedepan para generasi muda milenial jangan sampai melupakan sejarah,” ungkap Amir Mahmud, selaku salah satu pihak keluarga penjaga makam Selamiring, Jum’at (12/7/2019).

Selain itu, masih kata Amir, untuk menambahkan selingan kegiatan babaritan ini sebagai pesat rakyat warga setempat, pemangku hajat di makam selamiring selama dua hari dua malam sediakan panggung hiburan Topeng Betawi dan Jaipong dari tanggal 11 – 12 Juli. “Panggung topeng dan jaipong tersebut sudah bertahun lamanya disedikan oleh pemilik groupnya, kita hanya menyediakan tempat saja, karna group tersebut secara sukarela turut andil dalam melestarikan budaya dalam segi panggung pesta rakyatnya,” katanya.

Pada prosesi tradisi babaritannya, dibacakan ritual doa terlebih dahulu yang di lakukan oleh sesepuh setempat diantaranya Abah Sa’an, Abah Saman dan Abah Emis.

Di makam selamiring yang merupakan situs budaya peninggalan sejarah zaman Kerajaan Padjajaran ini, juga terdapat sumur tua di area belakang makam selamiring yang konon sumur tersebut pernah di jadikan sebagai lokasi pemandian kuda milik Prabu Siliwangi. Namun mirisnya, sumur tua tersebut kini tercemar oleh limbah aliran dari belakang pasar kranggan maupun pemukiman dibelakangnya.

Camat Jatisampurna, Wahyudin (Kemeja Putih)

Terpisah, Ketua Lembaga Perlindungan Pelestarian Lingkungan Hidup Republik Indonesia (LPPLH-RI) Kota Bekasi, Achyar Bachtiar, yang ikut dalam pembukaan pesta rakyat tradisi budaya babaritan ini, di kegiatan babaritan di makam selamiring mengucapkan selamat kepada sesepuh setempat yang tetap peduli melestarikan budaya secara turun-temurun, dan kepada pemerintah dalam hal ini juga lebih peduli terhadap situs peninggalan sejarah disini.

“Saya dan pastinya juga masyarakat khususnya di karanggan kota bekasi ini juga berharap agar pemerintah lebih peduli terhadap budaya karanggan terlebih lagi pada peninggalan sejarah disini. Sebab bukan satu atau dua lokasi peninggalan sejarah di jatisampurna, akan tetapi sangat banyak yang belum mendapat pengakuan dari pemerintah setempat,” terang Achyar kepada zonapantau.com

Dirinya, lanjut Achyar, khusus kepada masyarakat semuanya yang ada di Jatisampurna entah itu warga setempat atau dari luar, agar sama-sama menjaga lingkungan dan peduli pada pelestarian alam maupun tradisi budaya setempat sehingga kearifan lokal daerah setempat dapat bersinergi dengan perkembangan zaman modern ini.

“Untuk lokasi sumur tua di selamiring selain pemerintah agar peduli, kita pun sebagai masyarakat juga dapat bahu membahu ikut andil menjaga dan merawatnya. Jika alam sudah rusak oleh tangan kita sendiri, maka dampaknya kepada anak cucu kita, oleh karena itu mari bersatu,” pungkasnya.

Turut hadir, Camat Jatisampurna Wahyudin bersama staf, Relawan Pepen dan Mas Tri (PEN-TRI), Ketua LPPLH-RI bersama anggota. (Yudhi)

Author: 

www.zonapantau.com

Related Posts