Terkutuk Pencemar Kali Bekasi: Imbas Buruk Kepada Masyarakat Dan Ekosistem

 Berita Terkini, Nasional, Pemerintahan
banner 468x60

Kondisi Kali Bekasi terdapat buih seperti salju di atas permukaan airnya, terlihat sejak pagi Rabu (17/10/2018).

Bekasi (zonapantau.com) – Kembali terulang, gumpalan mirip salju menutupi lagi permukaan aliran Kali Bekasi pagi ini, Rabu (17/10/2018). Peristiwa ini bukan sekali dua kali terjadi sehingga jadi pemandangan umum bagi masyarakat kebanyakan.

Salah seorang warga Bekasi, Imran, mengaku tidak heran akan berlangsungnya fenomena ini. Hanya saja dia menyayangkan aliran yang biasa digunakan sebagai salah satu baku mutu air pengolahan PDAM ini dibiarkan berlarut-larut.

Meski tidak terlalu tahu menahu siapa yang pantas mengurusi persoalan pencemaran ini, dia mengutuk keras para pembuang limbah yang diduga berasal dari industri nakal di Kabupaten Bogor sana.

“Saya yakin, laknat Tuhan menyertai para pelaku yang mencemari sungai. Sungai itu ibaratnya sumber kehidupan, siapa saja berani mengganggu ekosistem kehidupan, dia harus siap-siap dijatuhi hukuman dunia maupun akhirat,” geram Imran.

Dari pantauan awak zonapantau.com di jembatan Bendungan Bekasi, aliran kali sepenuhnya tertutupi oleh gumpalan busa serupa salju. Sejumlah warga pengguna jalan, tampak bergiliran melihat dan mengabadikan fenomena miris ini.

Setidaknya dari pantauan di lapangan fenomena buih salju terjadi sebanyak empat kali, yakni pada 16 Februari, 3 September, 28 September, dan terakhir 17 Oktober 2018.

Buih Salju Hanya Satu Dampak Pencemaran

Pada suatu kesempatan, Kepala DLH Kota Bekasi, Jumhana Luthfi, menjelaskan bila keadaan air tengah normal, maka di atas permukaan air tidak akan timbul gumpalan seperti salju. Namun lantaran air dalam kondisi tidak netral alias derajat asam/basa tidak normal, maka reaksi kimia akan menimbulkan buih, khususnya ketika terjadi perbenturan dengan air hujan.

“Saat terjadi hujan terjadi benturan antara ion-ion pencemar yang ada di air, sehingga menghasilkan gas yang secara kasatmata karena berada di perairan berwujud busa atau buih,” jelasnya (3/9) lalu.

Namun fenomena gumpalan salju pada permukaan Kali Bekasi hanya salah satu dampak akibat pencemaran. Pencemaran lebih jauhnya akan berpengaruh pada kualitas air itu sendiri. Diketahui, pencemaran yang diduga berasal dari buangan limbah industri di sepanjang bantaran Sungai Cileungsi tersebut turut berpengaruh pada bau dan warna air yang tampak tidak seperti mestinya.

Dalam uji lab yang pernah dilakukan Environment Community Union terhadap kondisi Kali Bekasi, ditemukan sejumlah kandungan berbahaya dalam air. Antara lain kandungan timbal, logam berat, merkuri, surfaktan, hingga fosfat di luar ambang batas normal. Sehingga dianggap aliran sungai sudah digenapi racun dan tidak layak untuk dipergunakan.

PDAM Tirta Patriot sebagai pemasok air bersih untuk warga Kota Bekasi yang mendapatkan imbas langsung buruknya kualitas air. Bahkan setahun ini, sudah dua kali pelayanan dihentikan untuk 31 ribu pelanggan yaitu pada 11 Agustus dan 27 September.

“Kenapa kita tidak mengolah air dengan kandungan limbah yang tinggi, karena infrastruktur kita instalasi pengolahan air bukan pengolahan limbah,” ujar Kasubag Humas PDAM Tirta Patriot, Uci Indrawijaya (29/9) lalu.

Ketua Komunitas Peduli Sungai Cileungsi-Cikeas (KP2C), Puarman, bahkan pernah memberi peringatan agar masyarakat tidak mendekati melakukan aktivitas bersentuhan dengan aliran sungai lantaran secara pribadi pernah merasakan dampak buruknya pada kulit tubuh saat menyisir pencemar aliran Sungai Cileungsi maupun Kali Bekasi.

Dia juga pernah mendata puluhan warga yang mengaku mendapatkan efek buruk pencemaran di wilayah Kabupaten Bogor, dan Bantargebang, Kota Bekasi. Mereka mengeluh pusing, mual, hingga muntah-muntah, saking tidak kuatnya terhadap kondisi air. (Yudhi)

Author: 

www.zonapantau.com

Related Posts