Isu Hoaks dan Radikalisme, Tantangan Santri Era Milenial

 Berita Terkini
banner 468x60

Caleg DPRD Provinsi Jawa Barat, Dapil Bekasi-Depok, Muhammad Ikhsan.

 

ZONA BEKASI – Calon Anggota Legeslatif (Caleg) DPRD Provinsi Jawa Barat dari Partai Golkar, Muhammad Ikhsan berharap agar para santri lebih cerdas menyaring isu-isu yang beredar di jagat maya.

Ia mengatakan, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi santri milenial adalah menangkal informasi hoaks yang beredar luas di dunia maya.

Bang Ikhsan sapaan akrabnya mengatakan, keterbukaan di media sosial membuat siapa saja bisa berperilaku sesuka hati, bahkan berkomentar tentang sesuatu yang terkadang tak relevan dengan fakta yang ada.

Namun, dia melanjutkan, meski media sosial tak bisa dipisahkan dalam gaya hidup, pengaruh negatifnya bisa dibatasi.

“Di era globalisasi, tantangannya luar biasa. Zaman sekarang akan muncul ‘santri Facebookiah’, ‘Instagramkiah’. Namun, di sana kita bisa ceritakan kebaikan dan anti-hoaks,” ujar Bang Ikhsan di Bekasi, Selasa (16/10/2018).

Dengan ilmu agama yang dipelajari, kata Bang Ikhsan, para santri di pondok pesantren bisa berdakwah mengajarkan kebaikan di media sosial.

Politisi Partai Golkar ini meyakini, para santri bisa memilah informasi yang benar jika memiliki “tameng” ilmu agama serta pengetahuan yang cukup.

“Mulai saat ini, sampaikan ilmu agama yang baik. Awas narkoba, pornografi juga bergentayangan di situ, penyesatan idelogi dan radikalisasi juga ada. Kalau santri ‘tameng’-nya sudah kuat, kita bisa melakukannya (menangkal),” ujar Bang Ikhsan.

Tantangan lain, kata dia, adalah paham radikalisme. Ikhsan berharap, para pemimpin agama atau kiai di pondok pesantren sejak dini mengajarkan pemahaman tentang agama serta nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.

Ikhsan juga mengatakan, para ulama dan kiai di Jawa Tengah telah merumuskan cara menangkal isu radikalisme. Salah satunya dengan mengajarkan pendidikan karakter serta nilai-nilai Pancasila.

Ikhsan mengapresiasi pembentukan karakter oleh para kiai kepada para santri yang dinilai sanggup menjunjung tinggi nilai Pancasila di dalam keberagaman.

“Radikalisme ditangkal dengan perilaku yang baik. Santri sama kiai itu sami’na wa atho’na.Apa yang dikatakan kiai, dia ikut. Makanya diajari budi pekerti, dengan guyon para santri yang tidak pernah menyakiti hati,” ujar Ikhsan.

Hasil dari penanaman nilai-nilai Pancasila ini menurut dia juga akan tecermin saat para santri dalam setiap kegiatan beteriak lantang bahwa Pancasila merupakan idelogi bangsa yang tidak bisa diubah.

“Kalau sudah melekat, maka dia meneriakkan ‘NKRI harga mati’ itu kencang sekali. Mereka mudah memilah, ini yang benar atau yang salah,” ujar Ikhsan. (GUN)

Author: 

www.zonapantau.com

Related Posts