banner 468x60

Marak Bangli Jalan Raya Cibadak Sudah Mulai Seperti Puncak

 Berita Terkini, Nasional, Pemerintahan
banner 468x60

Terlihat belasan bangli di jalan raya Cibadak Sukamakmur

ZONA BOGOR (Sukamakmur) – Tidak hanya di puncak saja, bangunan liar (bangli) di Kecamatan Sukamakmur semakin marak saja. Hal itu masyarakat mulai menyoroti dari bermunculannya bangli di sepanjang Jalan Raya Cibadak – Sukamakmur, tepatnya Di Kampung Gombong, Desa Cibadak, Sukamakmur, Kabupaten Bogor.

Mirip-mirip diwilayah puncak, bangunan semi permanen tersebut difungsikan sebagai tempat usaha, seperti warung hingga bengkel.

Tak terlihat upaya pemerintah setempat dalam melakukan penertiban pada bangli tersebut, hingga saat ini masih terlihat pembangunan bangli baru disana. Pasalnya, jika lahan tersebut semakin banyak bangli maka, akan semakin sulit ditertibkan.

Salah satu warga Kecamatan Sukamakmur, membenarkan banyaknya bangli disana. Terlebih, lokasi bangli persis berada di sisi jalan yang dahulunya dijanjikan steril dari bangunan. Mengingat, peristiwa pergeseran tanah pada tahun 2014 silam.

“Iya tuh, siapa yang memulai, sampai sekarang jumlahnya makin banyak. Kelihatannya jadi kumuh. Padahal, dulu ada peringatan gak boleh ada bangunan apapun,” ujarnya.

Terlepas itu, menurut keterangan dari beberapa warga setempat bahwa keberadaan bangli disana berdiri dilahan yang ‘katanya’ milik Kades setempat. Namun, dikhawatirkan akan membuat wilayah disana menjadi layaknya seperti Puncak.

“Jangankan warung kecil, coba lihat yang membangun vila-vila dan resort di atas tuh. itu juga kebanyakan milik pendatang. Selama berdiri mana pihak pemerintah pernah melakukan penertiban?,” cetusnya.

Terpisah, Camat Sukamakmur Zaenal Ashari mengaku sudah menghimbau soal kaitan keberadaan bangunan tersebut. Legal tidaknya bangli di jalan itu di sebut atas permintaan warga disekitar yang ingin membuka usaha. “Sudah kita himbau, tapi gimana lagi, itu keinginan warga yang mau berjual. Tapi tetap kami antisipasi. Jangan sampai dari situ muncul wanita-wanita warung,” kilahnya.

Sementara dari penelusuran, untuk menyewa lahan itu, para pelaku usaha menyebut membayar 150-250 ribu perbulan ke Kades. “kalo saya 250, yang sebelah 150-an, kalo listrik beda lagi, bayar sama petugas PLN, kan ini mah langsung dari tiang bang,” beber salah seorang pedagang dilokasi. (Yudhi)

Laporan: Aji

banner 468x60

Author: 

www.zonapantau.com

Related Posts