banner 468x60

Komnas Anak Mengecam Keras Penyiksaan Anak Dilingkungan Sekolah

 Berita Terkini, Nasional, Pemerintahan
banner 468x60

Arist Merdeka Sirait foto bersama anak-anak

ZONA NASIONAL (Jakarta) – Penganiayaan dan penyiksaan yang disinyalir terjadi dilingkungan Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang telah viral dan menjadi “trending topic” ditengah-tengah masyarakat beberapa hari belakangan ini. Menurut Komisi Perlindungan Anak (KPA) itu merupakan tindakan kekerasan dan kejahatan terhadap anak yang tidak dapat diterima akal sehat manusia.

Kekerasan yang terjadi dilingkungan sekolah dan diduga dilakukan oleh oknum guru sebagai pendidik ini dapat diancam kurungan penjara dan dapat ditambahkan dengan pemberatan hukuman dan sungguh-sungguh tidak dapat dibenarkan oleh alasan apapun.

Merujuk Konvensi International Hak Anak (KHA), lingkungan sekolah setiap negara yang telah meratifikasi dan terikat dengan Konvensi PBB ini wajib menjadikan lingkungan sekolah dimasing-masing negara bebas dari kekerasan yang dilakukan sesama peserta didik, guru baik guru reguler dan non-reguler, pengelola sekolah maupun penjaga sekolah, demikian disampaikan Arist Merdeka Sirait Ketua Umum Komisi Nadional Perlindungan Anak kepada media, usai menjadi narasumber Focus Group Discussion (FGD) Menangkal Perundungan, Persekusi terhadap anak dan hoax yang diselenggarakan Polres Jakarta Timur, Senin (06/11/2017) kemarin di Jakarta.

Arist menambahkan, dimanapun, di negara mana juga penganiayaan dan penyiksaan dan kekerasan ini terjadi, berdasar ketentuan Konvensi PBB Tahun1989 tentang Hak Anak. “Tindakan kekerasan yang diduga dilakukan oleh guru terhadap muridnya merupakan tindakan pidana yang patut diganjar dengan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya,” tegasnya.

“Atas berita ini, demi kepentingan terbaik anak ( do the best interest of the child) dimanapun, dinegata mana jua dan berlaku secara universal pula, Komisi Nasional Perlindungan Anak sebagai lembaga independen dan sebagai mekanisme perlindungan anak di Indonesia mengecam dan mengutuk secara keras terhadap tindakan brutal yang diduga dilakukan sang guru yang seyogianya menjadi panutan untuk menjaga dan melindungi peserta didiknya dari segala bentuk kekerasan,” papar Arist.

 

Sebab menurutnya, setiap negara yang telah meratifikasi KHA wajib dan terikat secara politis dan juridis untuk mengimplementasikan semua isi dari ketentuan instrumen international ini, dengan kata lain setiap negara wajib untuk memastikan perlindungan anak.

“Oleh sebab itu, guna memastikan kebenaran berita ini dan untuk tidak menebar kebohongan atau hoax dan atau kebencian, Komisi Nasional Perlindungan Anak yang selanjutnya disebut Komnas Anak menerjunkan Quick Investigator Voluntary dengan melibatkan media dan pegiat perlindungan anak ke Pangkalpinang dan Bangka Belitung,” ucapnya.

Disamping itu, masih kata Arist, Komnas Perlindungan Anak juga mendorong polres Pangkalpinang, Kepala Dinas Pendidikan, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Pangkalpinang bersama para pegiat perlindungan anak di Bangka Belitung untuk segera melakukan investigasi guna menemukan kebenaran atas kasus kekerasan ini.

“Segera mengumumkan temuannya kepada khalayak publik. Sekali lagi, atas berita dugaan kekerasan yang telah menyita perhatian dan memunculkan keprihatinan ditengah-tengah masyarakat, Komnas Perlindungan anak tidak memberikan ruang sedikitpun lingkungan sekolah di masa depan menjadi ajang kekerasan. Apapun kesalahan dan kekurangan anak para peserta didik, guru dan siapapun tidak boleh menggunakan kekuasaannya untuk melakukan kekerasan secara membabi buta,” imbuhnya.

Arist menyarankan, jika ada anak yang tidak beretika saat berhadapan dengan gurunya, harus diakui sebagai perilaku tersebut merupakan kegagalan guru menanamkan nilai-nilai kebaikan dan etika terhadap peserta didiknya termasuk juga orangtua lingkungan rumah anak. Kasus kekerasan yang viral ini tidak boleh terulang dimanapun, dan di negara mana pun.

“Berita ini harus menjadi momen dan kesempatan untuk mengoreksi dunia pendidikan, sebab ini menjadi tantangan sendiri bagi Menteri Pendidikan kita,” demikian kata Arist Merdeka Sirait. (Yudhi)

banner 468x60

Author: 

www.zonapantau.com

Related Posts