banner 468x60

Potensi Penggiringan Opini Jangan Percaya Begitu Saja Hasil Survei

 Berita Terkini
banner 468x60

ZONA BEKASI (Opini Pilkada) – Pra Pilkada Kota Bekasi 2018 mulai memanas menjelang para kandidat untuk mendapatkan rekomendasi dari DPP parpol masing-masing. Konfigurasi antar kekuatan koalisi makin dinamis dan penentuan pasangan calon (paslon) dipastikan jika sudah dideklarasikan atau pra pendaftaran paslon 1 Januari 2018 mendatang.

“Hal biasa saat Pilkada banyak lembaga survei rame-rame merilis hasil surveinya. Sebagai masyarakat harus mensikapi dengan bijaksana jangan ditelan mentah-mentah hasil survei tersebut,” jelas Pemerhati Kebijakan dan Pelayanan Publik Bekasi, Didit Susilo, Minggu (15/10/2017).

Menurut Didit, kepada zonapantau.com sebagaimana berita-berita di media lainnya, survei juga bisa dijadikan alat untuk mempengaruhi opini publik, mempengaruhi pola pikir dan emosi publik, bahkan mengarahkan mereka untuk memilih sesuatu dan kepentingan politik pra rekomendasi parpol. Hajatan Pilkada lembaga survei dan hasil surveinya kadang merupakan alat yang dipakai oleh pihak-pihak yang berkepentingan sebagai alat untuk ‘perang urat saraf’.

Bagi pihak yang diunggulkan oleh hasil survei suatu lembaga, hasil survei itu bisa menjadi alat penyemangat dan mampu meninggikan moral pendukung (terutama pendukung yang tidak tahu dan tidak mengetahui mengenai proses dan maksud survei, yang penting tahunya hasil survei).

Sebaliknya bagi pihak yang kurang diunggulkan dalam hasil survei, hasil survei bisa membuat kelompok mereka ‘terpengaruh’ dan mampu mengurangi moral pendukung (sekali lagi terutama untuk pendukung yang tidak tahu dan tidak mengetahui mengenai proses dan maksud survei, yang penting tahunya hasil survei).

Untuk kelompok yang masih mengambang, yang masih belum menentukan keputusan untuk memilih, hasil survei bisa mempengaruhi pilihan mereka, apalagi jika dalam suatu survei disamping menampilkan hasil pilihan rakyat (yang bisa jadi tidak sesuai kenyataannya), juga hasil survei diembel-embeli hal lain seperti tingkat kepuasan atas kinerja A ataupun B. Disisipi juga akan tingkat keyakinan pemilih terhadap kemampuan mempimpin A dan B apabila A atau B terpilih, dll.

Dijelaskan Didit, hasil survei publik adalah penelitian dan karya intelektual dengan metode terstruktur jelas untuk mendapatkan informasi dari responden dan dapat mewakili populasi yang diteliti. Dari pengalaman Kota Bekasi yang sudah menggelar Pilkada sebanyak 2 kali, fakta juga mencatat saat itu juga banyak beredar hasil survei bahkan petahana surveinya juga kecil.

“Biasanya petahana dimanapun survei ada di peringkat atas, 1, 2 atau 3, tinggal angkanya masih bisa dikejar atau tidak. Jika di posisi bawah jelas itu survei sepihak dengan maksud manuver politik dan hasilnya abal-abal. Sebagai lembaga publik dan mengopinikan publik jika jauh dari riel sebagai pertanggujawaban karya intelektual lembaga seperti itu tidak kredibel harus membubarkan diri,” paparnya.

Ditegaskannya, tekhnik pengumpulan data survei yang digunakan oleh lembaga survei di Indonesia (yang hampir selalu menampilkan hasil yang berbau politik) lebih banyak wawancara dan quesioner, dan survei yang dirilis pun lebih banyak bersifat deskriptif daripada analitis. Sehingga apa yang dirilis lebih banyak menggambarkan (dan mungkin yang digambarkan sebenarnya tidak sesuai dengan kenyataan) apa yang diinginkan atau dipilih oleh masyarakat.

Hasil metode survei wawancara paling sering menimbulkan bias, hal ini berkaitan dengan kemampuan responden memahami pertanyaan dan juga kadang responden berpartisipasi secara tidak ikhlas. Karena kadang-kadang orang yang disurvei ada perasaan takut, khawatir atau bahkan curiga jikalau dia memberitahukan secara jujur dan jelas, apalagi surveyor yang ditemui belum pernah dikenal sama sekali.

Jika seorang surveyor mengambil responden seorang yang dia kenal atau dekat dengannya, tentu akan menimbulkan bias yang lebih besar. Dari metode survei wawancara ataupun quesioner dengan menerjunkan surveyor sewaan juga riskan untuk menimbulkan bias yang besar, hal ini berkaitan dengan tingkat kejujuran surveyor tersebut.

Kadang cuma untuk mengejar target uang atau waktu, quisioner yang harusnya disebarkan ke warga secara acak, beberapanya mereka isi sendiri.

Begitu juga survei wawancara lewat telpon seperti yang dirilis oleh salah satu lembaga survei beberapa waktu lalu, juga bisa memiliki bias yang besar, walaupun dikatakan margin of error cuma 2 koma sekian. Bisa lewat wawancara telpon dikarenakan tidak semua orang pegang atau memiliki HP.

Tingkat kepercayaan responden terhadap surveyor yang menelpon mereka dan juga pemahaman mengenai apa yang ditanyakan maupun tujuan dari wawancara tersebut, sehingga kadang jawaban yang diberikan pun asal-asalan apalagi kalau pertanyaannya sudah mengarahkan kejawaban tertentu, sehingga kadang tak sedikit dari mereka yang menyerahkan jawaban ke pihak survei.

Bagi pihak yang merasa diunggulkan oleh pihak survei, jangan terlalu berbangga diri begitu pula dengan pihak yang dikecilkan oleh hasil survei, jangan rendah diri. Karena survei yang berbau politik, sepertinya tidak ada lagi yang netral, lebih banyak bernuansa ‘keberpihakan’.

Untuk pihak yang masih belum menentukan pilihan, hendaknya memilih berdasarkan rasionalitas, bukan cuma berdasarkan ikut-ikutan teman atau tetangga ataupun terpengaruh oleh berita-berita yang sekarang juga cenderung berpihak. “Pertimbangan yang paling riel adalah hasil kerja yang dirasakan langsung masyarakat. Walaupun pemimpin tidak mungkin memuaskan semua warganya, paling tidak terus kerja iklas dan keras serta terus memperbaiki kepemimpinan,” pungkas Didit. (Yudhi)

banner 468x60

Author: 

www.zonapantau.com

Related Posts