Warga Jonggal Tolak Pembangunan Masjid Milik Yayasan Berpaham Wahabi

 Berita Terkini
banner 468x60

ZONA BOGOR (Jonggol) – Perbedaan pemahaman terkait persoalan pemahaman fiqih antara warga Kampung Cigugur RT02/RW03, Desa Singajaya, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor dengan Yayasan Manarussunah memantik reaksi keras dari masyarakat. Puluhan warga geruduk kantor desa untuk pertemuan musyawarah dengan pemerintah setempat, Jum’at (13/10/2017).

Bahkan warga menolak rencana pihak yayasan yang akan membangun Mesjid ditempat tersebut. Alasan warga selain tidak memiliki ijin, pihak yayasan juga dinilai mengancam konflik dengan aliran wahabinya.

Tampak hadir Camat Jonggol, Kades, Kapolsek dan Koramil, pada Pertemuan kedua belahpihak diaula kantor Desa Singajaya.

“Kami warga Kampung Cigugur menolak keras pembangunan sarana masjid oleh yayasan manarussunah, kenapa warga menolak? Karena pihak yayasan memiliki pendapat agama yang berbeda dan telah melanggar kesepakatan hasil musyawarah sebelumnya,” ungkap salah satu tokoh masyarakat Kampung Cigugur H Ompol Dewa, kepada wartawan.

H Ompol menjelaskan, salah satu pemahaman yang berbeda dengan masyarakat yaitu pihak yayasan mengharamkan jiarah kubur, perayaan hari besar islam dan tahlilan yang juga diharamkan yang dituju kepada masyarakat sekitar.

“Semua kegiatan keagamaan yang dilarang itu sudah menjadi tradisi bagi masyarakat kami, seperti tahlilan itu kan tidak bisa dihindari, setiap ada warga yang meninggal sudah pasti warga secara berjamaah mengirim doa untuk yang meninggal,” tuturnya.

Yang paling fatal, kata dia, pihak yayasan sudah melanggar perjanjian dan kesepakatan dengan warga. Seperti perizinan pembangunan masjid yang menyalahi prosedur.

“Sebelum membangun mesjid warga diiming – imingi dengan uang Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu, karena tidak mau menjual keyakinan warga kompak menolak pemberian uang tersebut. Intinya kami dengan warga lainnya sudah sepakat menolak dibangunnya sarana ibadah milik yayasan tersebut, apabila pihak yayasan bersikeras, jangan salahkan kami kalau warga disini melakukan tindakan keras. Perlu diketahui oleh pihak yayasan, warga Cigugur tidak pernah memulai perkara, tetapi kami hanya ingin hidup tentram dalam menjalankan agama,” tegas H Ompol.

Hal senada disampaikan oleh Hendra warga Desa Singajaya. Menurutnya orang – orang yang tergabung diyayasan merasa sudah menjadi ahli surga, tidak tanggung tanggung mereka menilai kami sebagai ahli bid’ah.

“Yayasan manarussunnah selain mengharamkan aktifitas kegiatan ibadah warga disink, mereka juga menilai ibadah kami salah, seakan mereka yang punya surga, itulah pemahaman wahabi yang mengklaim dirinya yang paling bener, sementara orang lain dinilai salah, padahal kita satu agama, harusnya mereka lebih menghargai, mengingat posisi orang yayasan juga mayoritas sebagai pendatang,” tukasnya.

Terpisah, Eko yang mewakili yayasan manarusunnah tidak menduga ada reaksi yang keras dari masyarakat.

“Tujuan kami dari awal hanya ingin membangun mesjid, dan kami bukan teroris atau dari aliran islam yang keras, pihak yayasan juga berusaha agar tidak eksklusif, namun apabila ada kesalahan kami minta petunjuk dari muspika supaya selesai dengan baik,” ucap Eko seraya berharap agar warga dan kepala desa tidak mengusirnya dari Kampung Cigugur.

Selain itu, Camat Jonggol, Beben Suhendar yang ikut dalam musyawarah keduabelah pihak tersebut, mengatakan pihaknya sebagai penengah mencari solusi agar permasalahan ini tidak sampai berujung tindakan anarkis. “Warga kampung bersikeras agar pembangunan masjid milik yayasan manarussunah tersebut dihentikan, mengingat perbedaan pemahaman pihak yayasan dengan warga setempat,” katanya.

Masih kata Beben, atas laporan warga kampung Cigugur, juga pihak Yayasan telah menyalahi aturan proses perizinan untuk pembangunan masjid.

“Warga menilai yayasan telah membohingi warga setempat dengan melanggar hasil musyawarah di bulan Februari lalu yang isinya pihak yayasan tidak melanjutkan pembangunan masjidnya. Tapi kenyataannya pembangunannya tetap berjalan sehingga menyulut kemarahan warga, selain itu perizinan pembangunan masjidnya juga tak sesuai peruntukan alias berbeda Desa,” imbuh Camat Beben. (Yudhi)

Author: 

www.zonapantau.com

Related Posts